Bukanlah sebuah ikatan ion yang mengambil dan menerima.
Tapi sebuah ikatan kovalen yang saling berbagi dan berikatan bersama.
Itulah cinta.
Cinta tidak seperti indikator PP, yang hanya bersemi warnanya saat basa, dan pudar dalam asam.
Plinplan.
Bukan pula seperti indikator EBT, yang begitu kompleks dan amat bersyarat.
Rumit.
Pun bukan indikator K2CrO4, yang hanya menurut pada perak (harta).
Mahal.
Cinta itu berani, sederhana, dan apa adanya.
Seperti lakmus yang menyatu mana susah (merah) dan senangnya (biru), tidak banyak syaratnya, dan tidak seulas-seulas warnanya, tapi nyata!!
Cinta itu adalah kesabaran.
Bagaimana engkau menimbang takarannya, melarutkan segala perbedaannya, mengendapkan dan memisahkan dengan segala pengotornya.
Dan bagaimana dalam panasnya pijaran cobaan, engkau tetap mempertahankan dirimu, tidak terbakar jadi abu, hingga dengan pikiran yang dingin engkau mampu menetapkan kemurnian cintamu.
Tidak ada menipu.
Tidak ada terburu-buru.
Karena semuanya telah diberi waktu.
Seperti deretan cawan yang berharga dan berkilau rupanya, jangan engkau berani sentuh mereka. Tak takutkah menambah lemak-lemak dosa, yang akan ditimbang nantinya??
Seperti susunan labu ukur menawan yang terkunci rapat dalam lokernya.
Janganlah engkau mencurinya (pacaran), tapi mintalah kunci kepada pemiliknya, hingga dengan sah kau bisa mengambilnya.
Ingat, cinta terlalu murni jika harus dibandingkan dengan emas, terlalu berharga jika harus ditukar dengan HPLC (=D), dan terlalu suci untuk dipermainkan di laboratorium kehidupan.
Maka aturlah panjang gelombang cintamu, tunggulah waktu retensi yang telah diberikan, dan janganlah melanggar SOP yang telah ditetapkan.
Hingga tidak lain predikat yang diberikan padamu dalam ujian cinta ini adalah... KOMPETEN.
=D
-Bagas

